lp2m-unej

UNEJ Tingkatkan Kualitas Dan Kuantitas Penelitian

Universitas Jember terus mendorong para peneliti untuk meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian. Upaya itu dilakukan melalui kebijakan pembentukan kelompok penelitian (research group) yang berbasis program studi. Diharapkan melalui kelompok penelitian ini jumlah penelitian dan luaran akan mengalami peningkatan. Selain research group berbasis program studi, research group yang ada juga berdasarkan topik tertentu, misalnya yang sudah ada adalah research group tentang kopi. “Alhamdulillah pada tahun ini ada 139 penelitian yang didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dari beragam skema. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun lalu yang hanya 122. Kami optimis dengan adanya research group jumlah penelitian dan luaran UNEJ akan meningkat drastis,” papar Khoirul Anam, Sekertaris II Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember saat ditemui di ruangannya (25/1). Dosen di Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik ini lantas menjelaskan, untuk mendongkrak kuantitas dan kualitas penelitian di kampus Tegalboto, LP2M telah menyiapkan klinik publikasi ilmiah. Klinik ini bertugas untuk membantu para peneliti dalam menyempurnakan penelitiannya sampai bisa terbit pada salah satu jurnal terakreditasi. “Klinik publikasi ilmiah ini akan membantu para peneliti menyempurnakan penelitiannya. Misalnya saja bagi mereka yang kesulitan dalam menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris maka akan kami siapkan ahlinya. Tidak hanya dalam hal tata bahasa Inggris klinik ini juga akan membantu revisi jurnal saat jurnal ditolak hingga kemudian berhasil dipublikasi,” jelas dosen yang juga aktif dalam research group mengenai kecerdasan buatan ini. Khoirul Anam juga berharap, hasil penelitian dari para peneliti yang ada di Universitas Jember tidak hanya berhenti di jurnal terakreditasi, namun juga memberikan dampak nyata dan dapat bermanfaat bagi khalayak luas. “Peneliti harus memiliki arah yang jelas terhadap penelitiannya. Mau kemana akhir dari penelitian yang dilakukan. Apakah ditujukan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan, atau dikembangkan menjadi bisnis yang bisa menghasilkan bagi lembaga ataupun pribadi peneliti, sehingga dengan demikian nama Universitas Jember akan semakin dikenal oleh masyarakat luas,” pungkasnya. (mun) [aps-social id=”1″]

Selanjutnya

LP2M Universitas Jember

Visi Universitas Jember 2016 – 2020 adalah “Menjadi lembaga unggulan dalam pengembangan sains, teknologi, dan seni berwawasan lingkungan, bisnis dan pertanian industrial”. Visi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNEJ tahun 2016-2020 adalah “Menjadi lembaga yang terdepan dalam pengembangan dan penerapan IPTEKS bidang pertanian industrial, perkebunan dan pangan serta pengembangan wilayah yang berwawasan bisnis dan lingkungan.” Dalam pencapaian visi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LP2M UNEJ menetapkan beberapa misi sebagai berikut: 1. Menguatkan IPTEKS yang kreatif, inovatif, bernilai dan relevan dengan lingkungan, bisnis dan pertanian industrial untuk kesejahteraan masyarakat. 2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian serta luaran penelitian,terutama diseminasi berupa forum ilmiah, publikasi nasional dan internasional bereputasi, Kekayaan Intelektual dan produk inovasi. 3. Mengembangkan potensi ekonomi rakyat dan meningkatkan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal berbasis hasil penelitian sebagai bentuk keramahan sosial Universitas Jember 4. Memperluas jaringan kerjasama penelitian dengan institusi dalam dan luar negeri.

Selanjutnya

Tebu Transgenik Toleran Kekeringan dan Rendemen Tinggi

Tanaman Tebu Transgenik adalah tebu yang bermutu tinggi yang ditemukan oleh Universitas Jember, tanaman ini tercipta berkat kerjasama antara banyak pihak, diantaranya adalah oleh PTPN Jember yang menyiapkan lahannya untuk ujicoba tanaman tebu trnsgenik ini. Penggagas dari tanaman tebu Transgenik ini adalah Profesor Bambang. Penemuan ini sehingga menjadikan Tebu Transgenik dilirik oleh berbagai belahan dunia, di antaranya adalah Jepang, brazil, Inggis dan Korea. Negara – negara tersebut datang ke Indonesia hanya ingin melihat perkembangan tebu transgenik universitas Jember. Tebu Transgenik dari hasil modifikasi gen menjadi tebu biotik adalah hasil karya salah satu Profesor di Universitas Jember, yakni Prof. Dr. Bambang Sugiharto sebagai dosen FMIPA Universitas Jember. Beliau adalah salah satu ilmuwan biologi molekuler Indonesia yang sudah berkiprah di Internasional, sesuai dengan apa yang beliau tekuni akhirnya berhasil menemukan sebuah varietas tanaman tebu yang tahan kekeringan dan mendapatkan pengakuan internasional. Penemuan ini pun berhasil membuat tertarik beberapa peneliti dari asing, seperti dari Jepang, Brazil, dan Inggris. Sebagaimana dikutip dari netsains.net, bahwa ditengah kesibukannya untuk melakukan penelitian terhadap pengembangan varietas tanaman tebu baru dengan pendekatan bioteknologi, beliau juga masih aktif membimbing mahasiswa S1, S2, S3 dan memberi perkuliahan di Univerisitas Jember. Selain aktivitas tersebut beliau juga menjadi konsultan biotek tebu di PT. Perkebunan Nusantara dalam rangka perakitan dan pelepasan (komersialisasi) varietas tebu baru. Sekaligus sebagai penasehat dalam pengembangan Laboratorium Sentral Terpadu di Politeknik Jember. Dari alasan yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Bambang, ia menekuni ilmu biologi molekul ini dengan alasan yang cukup sederhana karena termasuk bidang biologi modern. Beliau menyampaikan bahwa belajar biologi memang harus melakukan pendekatan melalui biologi molekul.

Selanjutnya

Achmad Subagio, Profesor Muda Pejuang Singkong

Selama ini mungkin kita hanya mengenal gethuk, gathot, opak atau tepung tapioka, bahan pangan khas dari bahan singkong atau ubi jalar. Persepsi yang kadung melekat pada ubi jalar ini sebagai bahan makanan penduduk ekonomi lemah alias miskin dan bahan pangan murah. Tapi ternyata singkong yang dicap sebagai makanan kelas dua ini mengantar Prof. Ahmad Subagio menjadi orang penting dan meraih penghargaan bergengsi dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) berupa Kehati Award VIII, kategori Cipta Lestari Kehati. Lelaki kelahiran 17 Mei 1969 ini sejak kecil sudah akrab dengan singkong. Lahir dan tumbuh di Kediri. Saat duduk di bangku sekolah, dia membantu keluarganya berjualan gethuk, makanan khas dari singkong. Tak hanya berjualan, dia pun membantu memilih singkong yang baik dan mengolahnya. Selepas SMA, dia meneruskan pendidikan ke Universitas Jember dan meraih predikat cum laude saat itu. Pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember ini tak diam untuk menerapkan ilmunya. Dia mengejar ilmu teknologi pangan ke negeri sakura, Jepang tepatnya di Universitas Perfektur Osaka. Di sana dia meneliti pigmen bunga seruni yang dapat diekstrak menjadi pewarna alami. “Karena kebutuhan produk itu besar di sana,” ujarnya saat dihubungi Mongabay, pada Minggu (01/02/2015). Dari Jepang, Subagio kembali lagi ke Indonesia. Sayangnya ilmu tentang bunga seruni tak bisa diimplementasikan. Sebagai peneliti, dirinya tergerak untuk menyelesaikan penelitian dan bisa mengimplementasikan sesuatu yang ditelitinya itu. Dia pun melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Memperdalam teknologi pangan dan pertanian mengikuti mengikuti program jejaring kerja sama antar Universitas Asia-Eropa di Belanda dan Inggris. Subagio sempat mengunjungi Avebe Corp di kota Veendam, Belanda. Di sana dia mengunjungi pabrik pengolahan kentang untuk menjadi pati atau tepung yang memberinya inspirasi. Sejak saat itulah, di tahun 2004 dia bertekad untuk meneliti dan mengolah sumber pangan lokal, lalu pilihannya jatuh pada singkong. “Kenapa singkong, karena sumber pangan ini mudah dan banyak ditemukan di Indonesia,” ujarnya. Dalam pemikiran Subagio, negara ini adalah negara besar dengan pertumbuhan dan pertambahan penduduk yang tinggi. Tentunya penduduk memerlukan kebutuhan pangan yang besar, dan sayang jika hanya tergantung pada beras. Apalagi jika terus menerus terjadi akan meningkatkan impor yang besar. Karena itulah dia memikirkan sumber pangan alternatif yang bisa dijangkau masyarakat. Sebelum memutuskan meneliti singkong, dia pun sempat memusatkan perhatian kepada kacang koro dan ubi jalar. “Tetapi ketersediaannya lebih banyak ubi kayu dan implementasinya lebih banyak.” Dia meneliti kacang koro sebagai alternatif protein masyarakat. Kacang ini mampu tumbuh di lahan kering dan lahan yang cenderung kurang subur atau lahan kritis. Kacang koro bisa dipakai sebagai pengganti kedelai dalam pembuatan tempe yang lebih dikenal masyarakat. Pada 2004, Subagio mulai meneliti singkong secara serius. Penelitian ini didasari dari opini masyarakat bahwa singkong adalah makanan orang miskin. Dan opini itu, kata pria yang dikukuhkan sebagai profesor pada usia 40 tahun ini, mengakui orang miskin memang banyak mengkonsumsi singkong. Singkong pun memang melimpah berdasar data yang ada. Dari sanalah dia ingin mengubah persepsi dan opini masyarakat ini. Bahwa singkong bisa naik ‘kelas’ dan tidak hanya dijumpai dalam bentuk yang ada sekarang ini. Bahwa singkong pun bisa membuat lidah pangling. Tak berasa seperti singkong. “Bagaimana caranya agar kesan singkong itu hilang, terbebas dari cita rasa singkong,” ujar pria 10 bersaudara ini. Dia pun menerapkan ilmu yang sudah diperoleh dan pengalaman yang dimiliki selama ini. Dia menggagas pembuatan Mocaf (Modified Cassava Flour) sebuah olahan tepung dengan bahan dasar singkong. Pada tahun 2006, Guru Besar Universitas Jember ini mulai membuat pabrik Mocaf di Trenggalek. Pabrik itu sudah mampu memproduksi ratusan ton tepung Mocaf setiap bulannya. Sayangnya pabrik itu sempat tersendat. Kemudian dia mendirikan pabrik di Solo yang kemudian berkembang pesat. Subagio menceritakan sedikit proses yang dilakukan untuk mengangkat derajat singkong. Dia mencoba meniru beberapa teknologi tradisional seperti pembuatan makanan gathot. ”Kalau diolah dengan benar, kesan singkongnya bisa hilang.” Subagio mencoba melakukan teknologi fermentasi dengan bakteri asam laktat untuk menutup aroma singkong. Dia pun memilih sumber bakteri yang baik. Dengan teknologi sederhana dan jumlah terbatas selama tiga hari dia mendapatkan hasil yang diinginkan. Hanya saja waktu tiga hari ini dinilai terlalu lama, apalagi jika harus dilakukan dalam jumlah yang besar. Subagio pun terus melakukan penelitian, mengubah teknologi dan mengevaluasinya secara berkelanjutan. Hingga akhirnya dia mencatat waktu antara 10-15 jam. Sampai kini pun dia masih terus menyempurnakan catatan waktunya. Pengajar yang pernah menyabet gelar Dosen Berprestasi Nasional pada 2011 juga menjelaskan rahasia tentang singkong. Singkong yang baik, kata dia, adalah singkong yang dipanen setelah berumur 10-12 bulan dengan golongan atau varietas manis atau langsung bisa dimakan. Singkong yang baik, kata dia, juga bisa dilihat dari asal lahan tanamnya. Singkong yang baik biasanya bagus jika ditanam di lereng yang menghadap ke timur. “Patinya tinggi, kalau yang menghadap ke barat kurang bagus,” ujarnya. Menurutnya matahari pagi memicu fotosintesis lebih bagus, sehingga tidak segera mendorong pembentukan selulosa. Hal ini rupanya penting diperhatikan dan singkong yang baik ini akan berpengaruh pada rendeman dan fermentasi. Tak hanya di sukses di laboratorium dan pabrik, pria ini juga menginginkan bisa membantu masyarakat sekitarnya. Caranya dengan memberdayakan lahan pertanian dan berbagi ilmu tentang singkong. Dengan memberi pengetahuan, masyarakat bisa menghasilkan singkong yang bagus. Dia pun mulai memberdayakan masyarakat di sekitar pabrik untuk memenuhi kebutuhan pabriknya. Dia membentuk kelompok kerja yang berbeda. “Ada satu desa yang khusus mengupas singkong, lalu ada yang mengiris, ada desa yang mencuci, ada juga yang menjemur,” jelasnya. Melalui cara ini, dia mampu memberdayakan masyarakat desa dan memberikan pendapatan tambahan. Saat ini, sudah ada 65 desa di seluruh Indonesia yang dia bina untuk memproduksi Mocaf. Tak berhenti pada tepung, dia pun mengolahnya menjadi beragam produk. Tepung unik tersebut diolah menjadi beragam kue-kue kering, brownies, sampai menjadi mie ayam. Melalui gerai Mister Te, dia menjual produk-produk tersebut. Tidak lupa dengan berbekal tepung Mocaf, pria kelahiran Kediri ini juga menciptakan beras cerdas sebagai pengganti beras dari padi. Pada 2012, beliau dikukuhkan menjadi Guru Besar di Universitas Jember dengan pidato ilmiah berjudul Nasionalisme Pangan Untuk Kedaulatan dan Kesejahteraan Indonesia. Profesor muda ini masih harus berjuang untuk mengubah cara pikir dan cara pandang para peneliti dan masyarakat. Rupanya di kalangan peneliti pun masih banyak yang berpikir untuk apa meneliti singkong. Kini dia mengajak 20 peneliti lain untuk meneliti lebih dalam tentang…

Selanjutnya
Keatas