Keunggulan Singkong yang Harus Kamu Ketahui

SINGKONG adalah salah satu komoditas pangan yang banyak tumbuh di Indonesia. Singkong mudah ditemui di hampir semua daerah di nusantara. Sebelum beras menjadi bahan pangan pokok yang merata di semua daerah, beberapa daerah di zaman dahulu telah menjadikan singkong sebagai bahan pangan pokok yang utama. Seiring perjalanan waktu, singkong malah menjadi makanan yang dikonotasikan dengan masyarakat ekonomi bawah. Padahal, banyak keunggulan singkong yang selama ini belum banyak diketahui orang. Mau tahu apa saja? Ini beberapa di antaranya: 1) mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber tenaga, 2) daun singkong kaya akan vitamin A dan sumber protein penting, 3) menghasilkan energi yang lebih banyak per hektare dibandingkan beras dan gandum, 4) dapat tumbuh di daerah marjinal di mana tanaman lain tidak bisa tumbuh, 5) sebagai sumber pendapatan petani karena bisa dijual sewaktu-waktu, dan 6) dapat disimpan dalam bentuk tepung dan pati. Keren ya… Meski demikian, amat disayangkan bila sumber daya hayati singkong selama ini dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kecukupan pangan, khususnya sebagai sumber karbohidrat. Produk olahan singkong yang dikenal masyarakat selalu ditampilkan dalam bentuk cemilan atau jajanan, seperti ubi rebus, bakar, goreng, kripik, getuk atau kolak, yang sejak dulu ada. Akibatnya, masyarakat selalu menganggap singkong sebagai makanan inferior yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah. Hal ini selaras dengan hasil penelitian dari Scott yang menyatakan, pola konsumsi singkong dan ubi jalar adalah berbanding terbalik dengan pendapatannya. Artinya, semakin banyak mengonsumsi singkong atau ubi jalar, pendapatannya berindikasi semakin kecil. Dengan kata lain, singkong dan ubi jalar dikonotasikan dengan makanan orang berpendapatan rendah. (*)

Selanjutnya

Jangan Anggap Remeh Singkong

SEBAGIAN kita boleh saja menganggap remeh singkong. Tapi, di negara lain, singkong telah menjadi komoditas yang memiliki dampak ekonomi besar. Bahkan, ada negara yang menjadikan singkong sebagai prioritas produk pertanian yang harus dikembangkan. Total produksi singkong dunia di tahun 2003 mencapai 174,32 juta ton. Jumlah itu sedikit mengalami peningkatan dibandingkan 2001 (170,52 juta ton). Produsen utama singkong dunia secara berturut-turut adalah Nigeria, Brazil, Thailand, Indonesia, Kongo, Ghana, dan India. Di Asia total, output produksi singkong turun sebesar tujuh persen yang direfleksikan oleh semakin kecilnya luas panen di Indonesia dan Thailand. Di Benua Amerika Latin, produksi singkong berkembang di beberapa negara, seperti Brazil, Kolombia, dan Bolivia. Di Brazil, terjadi peningkatan produksi pada tahun 2000 sebesar 23 juta ton sebagai pengaruh dari baiknya harga jual petani, di samping kondisi iklim yang mendukung. Di Bolivia, peningkatan produksi terjadi sebagai akibat dari meluasnya areal panen. Sedangkan di Kolombia peningkatan produksi merupakan dampak langsung dari adanya dukungan internasional terhadap pengolahan singkong dan promosi penggunaan teknologi baru. Di antara negara-negara lainnya, Thailand adalah negara termaju dalam pemanfatan singkong. Pada tahun 1998 saja, dari total produksi 15 juta ton singkong segar, Thailand telah mengekspor lebih dari 774 ribu ton tapioka. Oleh industri dalam negerinya, 970 ribu ton tapioka digunakan sebagai bahan baku industri pangan, MSG, pemanis buatan, kertas, tekstil, dan sebagainya. Saat ini, setelah adanya isu bioetanol, pemerintah Thailand telah membuat target untuk meningkatkan produksi singkong menjadi 34 juta ton pada tahun 2012 yang akan digunakan untuk industri gaplek (10 juta ron), etanol (9 juta ton), dan tapioka (15 juta ton). Sedangkan di Negeria sebagai produsen terbesar singkong, pemerintah telah mencanangkan singkong sebagai urutan pertama dari lima komoditi unggulan di samping beras, minyak nabati, peternakan, dan perkebunan untuk dikembangkan secepatnya. Untuk itu, Nigeria telah menyusun sebuah dokumen perkembangan industri berbasis singkong dalam The Nigerian Cassava Industry: Statistical Handbook. Di lain pihak, Cina sebagai net importer produk turunan singkong, telah membuat terobosan besar dengan mendirikan perusahaan negara yang mempunyai perkebunanan singkong lengkap dengan pabrik pengolahannya untuk tapioka, dan produk-produk turunannya seperti pati termodifikasi (modified starch). Masih anggap remeh singkong? Jangan ah. (*)

Selanjutnya

Pabrik Gula; Diversifikasi atau Mati!

GULA menjadi salah satu komoditas pangan startegis di Indonesia. Karena itu, pemerintah selalu menjaga stabilitas gula, baik dari sisi pasokan maupun harga. Dari sisi pasokan, ketersediaan gula harus mencukupi. Sedangkan dari sisi harga, pemerintah berusaha mengendalikan agar tidak terlalu tinggi. Karena itu, pemerintah selalu membuka opsi impor gula untuk menjaga pasokan. Terutama, untuk memenuhi kebutuhan gula industri. Bukan hanya membuka opsi impor, pemerintah juga membuka peluang swasta untuk berinvestasi pabrik gula. Tidak mengherankan, pabrik-pabrik gula BUMN yang sudah berdiri sejak era kolonial harus mampu menjaga eksistensi bisnisnya. Sebab, tantangan pabrik gula BUMN yang mayoritas warisan Belanda menghadapi sejumlah tantangan, seperti teknologi yang ketinggalan dan inefisiensi. Karena itu, mau tidak mau, manajemen pabrik gula harus mampu mendiversifikasi bisnisnya. Artinya, pabrik gula tidak boleh lagi terpaku hanya memproduksi gula. Pabrik gula harus bisa menciptakan produk komersial dari produk samping gula. Setiap bagian dari tanaman tebu serta hasil ekstraknya harus bisa dimanfaatkan dalam industri yang berbeda. Sebab, ada hampir 125 industri yang bisa muncul dari pengolahan bagian-bagian tebu. Salah satunya adalah pengolahan tetes tebu yang bisa dijadikan bioetanol, salah satu jenis sumber energi yang baru terbarukan. Selain itu, tetes juga bisa menjadi bahan baku pembuatan MSG. Belum lagi turunan tebu yang lain, yaitu produk biomassa. Dalam proses pengolahan tebu, ada produk biomassa yang tak dapat dimanfaatkan dalam pemrosesan gula. Demikian pula dengan ampas tebu yang dihasilkan. AMATI BIBIT: Dr. Luh Putu Suciati, SP, M.Si (kiri), dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, di laboratorium tebu Jengkol, Kediri, milik PTPN X. Peluang-peluang inilah yang kurang mampu ditangkap oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Termasuk, pengolahan produk gula. Indonesia masih belum bisa mendiversifikasikan hasil produknya ke dalam beragam bentuk. Di pabrik gula mancanegara seperti India dan Thailand, terdapat beragam varian produk yang dihasilkan. Berbeda dengan pabrik gula di Indonesia yang sudah terdoktrin sejak zaman Belanda yang hanya memproduksi gula kristal putih. Padahal, selalu ada pasar yang muncul dengan diversifikasi produk gula jadi. Mulai dari yang berbentuk gula cair, kubus, hingga gula putih bubuk. Jika ditelisik lebih dalam, terdapat pasar di masyarakat yang bisa disasar secara maksimal untuk mendistribusikan diversifikasi produk gula tersebut. Memang, ada kendala yang dihadapi industri terkait diversifikasi tebu. Beberapa diantaranya adalah alatnya yang belum tersedia dan kajian yang belum banyak yang dilakukan. Sebab, untuk melakukan kajian membutuhkan waktu yang cukup panjang. Begitu pula dengan penyesuaian teknologi yang digunakan, perlu peran perguruan tinggi dalam mendukung teknologi di pabrik gula. Bila tidak mendiversifikasi bisnisnya, cepat atau lambat pabrik gula akan mati. (*)

Selanjutnya

3 Alasan Singkong Harus Dikembangkan

PABRIK MOCAF: Para pekerja dengan menyortir singkong dalam bentuk chip sebelum dioleh menjadi mocaf.   PANGAN menjadi isu strategis nasional. Sebab, ketahanan pangan sangat terkait dengan ketahanan nasional. Kok bisa? Bagaimana tidak. Bahan pangan menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Ketika ketersediaan pangan bermasalah, akan menimbulkan instabilitas nasional. Misalnya, instabilitas ekonomi. Naiknya inflasi akibat mahalnya bahan pangan akan membuat daya beli lemah. Saat daya beli lemah, perekonomian nasional akan merasakan dampaknya secara langsung. Persoalan pangan juga bisa menjadi sumber instabilitas politik. Ketersediaan pangan yang bermasalah bisa menjadi persoalan politik yang serius, khususnya antara presiden dan jajaran dengan parlemen. Singkong sebagai bahan pangan sumber karbohidrat sejatinya bisa dikembangkan lebih besar lagi. Ini untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Berikut ini 3 alasan mengapa singkong harus dikembangkan di Indonesia:   1) Kebutuhan beras lebih besar dari pasokan Pada tahun 2035, menurut proyeksi para ahli kependudukan, sekalipun program Keluarga Berencana (KB) sukses, penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 350 juta jiwa. Dengan tingkat konsumsi beras sekarang 139 kilogram per kapita per tahun, pada 2035 dibutuhkan sekitar 50 juta ton beras. Untuk menghasilkan 50 juta ton beras, dibutuhkan sawah dengan produktivitas rata-rata 5 ton GKG (gabah kering giling) per hektare seluas sekitar 11 juta hektare. Padahal, data menunjukkan, saat ini Indonesia hanya mempunyai sekitar 6,5 juta hektare sawah. Sangat sulit membayangkan bagaimana mendapatkan areal baru seluas 11 juta hektare tersebut. Tidak heran, dari tahun ke tahun Indonesia selalu impor beras.   2) Singkong bisa dipakai untuk nonpangan Singkong sangat memungkinkan dikembangkan secara luas dan masal karena tidak hanya dipakai untuk kebutuhan pangan. Sebab, banyak industri nonpangan yang juga membutuhkan singkong sebagai bahan baku. Di bidang energi, produksi bioetanol bisa menggunakan bahan baku singkong. Demikian pula industri farmasi, kimia, cat, dan berbagai industri lainnya juga membutuhkan singkong. Artinya, singkong tidak hanya akan diserap oleh sektor pangan, melainkan juga di berbagai industri nonpangan lainnya.   3) Bisa dikembangkan di berbagai jenis lahan Salah satu keunggulan singkong dibandingkan bahan pangan lainnya, misal beras, terletak pada tingkat adaptasi terhadap lahan. Padi sebagai sumber beras akan menghasilkan produktivitas tinggi di lahan yang subur dengan ketersediaan air yang cukup. Padahal, di Indonesia lahan marginal sangat banyak. Jumlah lahan marginal pun lebih besar daripada lahan pertanian irigasi teknis. Singkong bisa ditanam di lahan kritis, kering, gambut, berpasir, dan semacamnya. Pendeknya, padi tidak bisa tumbuh di sembarang lahan. Sedangkan singkong bisa tumbuh di sembarang lahan. (*)  

Selanjutnya

Universitas Jember Rintis Science Techno Park

Universitas Jember mulai merintis berdirinya fasilitas Science Techno Park (STP). Fasilitas yang bertujuan untuk menjembatani hasil-hasil penelitian sivitas akademika kampus Tegalboto dengan pihak industri ini, secara resmi dibuka oleh Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember, didampingi oleh Retno Sumekar, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Agusta Jaka Purwana, Ketua Badan pengurus Cabang HIPMI Jember, Prof. Dr. Achmad Subagio, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), dan disaksikan hadirin lainnya di Agrotechno Park Universitas Jember (29/11). Dalam sambutannya, Moh. Hasan menjelaskan jika keberadaan STP Universitas Jember yang diberi nama Agro Inovasi nantinya membawa dua fungsi, yakni menghilirkan hasil penelitian dosen dan mahasiswa kampus Tegalboto, dan mendukung keberadaan industri yang berbasis pada riset dan pengembangan (Research and Development), khususnya industri yang berbasis pertanian dan perkebunan. Pemilihan industri pertanian dan perkebunan tidak lepas dari penetapan Universitas Jember sebagai perguruan tinggi unggulan di bidang Bioteknologi dibidang pangan dan kesehatan oleh Kemenristekdikti pada tahun 2016 lalu. Apalagi peneliti kampus Tegalboto telah banyak menelurkan inovasi yang menurut Moh. Hasan pantas masuk ke industri. “Hari ini baru perkenalan terbatas atau softlaunching sebab fasilitas STP kita masih dalam pembangunan yang letaknya di daerah Jubung dengan sokongan dana dari Islamic Development Bank,” kata Moh. Hasan. Salah satu teknologi yang didemonstrasikan siang itu adalah teknologi Agri Ino v1.0, karya Bayu Taruna dari Fakultas Teknologi Pertanian. Bayu Taruna menciptakan aplikasi berbasis remote sensing bagi petani dengan telepon genggam sebagai sarananya. “Petani kita sering kesulitan untuk mengetahui apakah tanamannya sehat, sakit atau perlu dipupuk. Sebab perlu penelitian di laboratorium yang memerlukan waktu, terlebih lagi jika lahannya luas. Dengan aplikasi Agri Ino, petani tinggal mengunduh aplikasinya, kemudian langsung dapat dipraktekkan dengan cara memotret daun tanaman dengan HP-nya. Saat itu juga data mengenai kondisi tanaman langsung diperoleh,” jelas dosen yang baru pulang menyelesaikan studi doktoralnya ini. Aplikasi Agri Ino v1.0 yang dipaparkan oleh Bayu Taruna langsung mendapatkan tanggapan positif dari para hadirin, antara lain dari petinggi PTPN X yang turut hadir. Mereka tertarik menggunakan aplikasi Agri Ino v1.0 di kebunnya. Menurut Bayu Taruna, aplikasi Agri Ino v1.0 yang dikembangkannya selain mudah juga murah, sebab jika menggunakan cara manual di laboratorium memakan waktu dan biaya dan mahal. “Jika menggunakan alat klorofil meter untuk mengetahui apakah tanaman sehat atau tidak, memakan waktu sekitar tiga hari, alatnya pun mahal seharga tiga ribu dolar,” imbuhnya. Bayu Taruna dan kawan-kawan kini tengah mengembangkan alatnya guna pemakaian lebih luas dengan bantuan drone atau pesawat tanpa awak. “Nanti kamera kita pasang pada drone yang terbang di atas lahan perkebunan sehingga dengan mudah kita bisa mengawasi kondisi tanaman di areal yang luas,” ujarnya lagi. Keberadaan STP Agro Inovasi Universitas Jember didukung oleh Retno Sumekar. Menurutnya pemerintah mentargetkan pembangunan 100 STP di Indonesia, walaupun dirasa sulit mencapai target tersebut. “STP adalah wadah mempertemukan antara akademisi, bisnis dan pemerintah serta komunitas. Memang tidak mudah untuk menghubungkan hasil penelitian perguruan tinggi dengan industri. Seringkali peneliti merasa produk inovasinya sudah baik, namun ternyata dari perhitungan bisnis tidak layak. Oleh karena itu saya salut atas pembangunan STP Agro Inovasi ini yang juga menggandeng HIPMI sebagai perwakilan pengusaha,” kata Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti. Kemenristekdikti sendiri melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi menyediakan dana hingga 400 juta rupiah bagi hasil penelitian yang siap menjadi usaha awal (start up). Ditemui seusai acara, Prof. Dr. Achmad Subagio menambahkan, nantinya penelitian sivitas akademika kampus Tegalboto yang dinilai layak dikomersialkan bakal menjalani masa inkubasi, training dan mentoring di STP hingga layak ditawarkan ke industri, atau dilepas ke pasaran. “Jadi tidak hanya produk-produk mahasiswa, dosen dan karyawan Universitas Jember saja yang kita bina di STP ini, namun tidak menutup kemungkinan jika masyarakat memiliki ide dan produk yang layak jual akan kita bantu juga. Harapannya Universitas Jember makin dirasakan manfaatnya,” tutur Prof. Dr. Achmad Subagio. Sementara itu Agusta Jaka Purwana, Ketua BPC HIPMI Jember menyambut baik keberadaan fasilitas STP, sebab menurut pengusaha yang juga alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember ini, adanya STP sesuai dengan tujuan HIPMI yakni mencetak pengusaha-pengusaha baru. (iim)

Selanjutnya

Tebu Transgenik Toleran Kekeringan dan Rendemen Tinggi

Tanaman Tebu Transgenik adalah tebu yang bermutu tinggi yang ditemukan oleh Universitas Jember, tanaman ini tercipta berkat kerjasama antara banyak pihak, diantaranya adalah oleh PTPN Jember yang menyiapkan lahannya untuk ujicoba tanaman tebu trnsgenik ini. Penggagas dari tanaman tebu Transgenik ini adalah Profesor Bambang. Penemuan ini sehingga menjadikan Tebu Transgenik dilirik oleh berbagai belahan dunia, di antaranya adalah Jepang, brazil, Inggis dan Korea. Negara – negara tersebut datang ke Indonesia hanya ingin melihat perkembangan tebu transgenik universitas Jember. Tebu Transgenik dari hasil modifikasi gen menjadi tebu biotik adalah hasil karya salah satu Profesor di Universitas Jember, yakni Prof. Dr. Bambang Sugiharto sebagai dosen FMIPA Universitas Jember. Beliau adalah salah satu ilmuwan biologi molekuler Indonesia yang sudah berkiprah di Internasional, sesuai dengan apa yang beliau tekuni akhirnya berhasil menemukan sebuah varietas tanaman tebu yang tahan kekeringan dan mendapatkan pengakuan internasional. Penemuan ini pun berhasil membuat tertarik beberapa peneliti dari asing, seperti dari Jepang, Brazil, dan Inggris. Sebagaimana dikutip dari netsains.net, bahwa ditengah kesibukannya untuk melakukan penelitian terhadap pengembangan varietas tanaman tebu baru dengan pendekatan bioteknologi, beliau juga masih aktif membimbing mahasiswa S1, S2, S3 dan memberi perkuliahan di Univerisitas Jember. Selain aktivitas tersebut beliau juga menjadi konsultan biotek tebu di PT. Perkebunan Nusantara dalam rangka perakitan dan pelepasan (komersialisasi) varietas tebu baru. Sekaligus sebagai penasehat dalam pengembangan Laboratorium Sentral Terpadu di Politeknik Jember. Dari alasan yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Bambang, ia menekuni ilmu biologi molekul ini dengan alasan yang cukup sederhana karena termasuk bidang biologi modern. Beliau menyampaikan bahwa belajar biologi memang harus melakukan pendekatan melalui biologi molekul.

Selanjutnya

Achmad Subagio, Profesor Muda Pejuang Singkong

Selama ini mungkin kita hanya mengenal gethuk, gathot, opak atau tepung tapioka, bahan pangan khas dari bahan singkong atau ubi jalar. Persepsi yang kadung melekat pada ubi jalar ini sebagai bahan makanan penduduk ekonomi lemah alias miskin dan bahan pangan murah. Tapi ternyata singkong yang dicap sebagai makanan kelas dua ini mengantar Prof. Ahmad Subagio menjadi orang penting dan meraih penghargaan bergengsi dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) berupa Kehati Award VIII, kategori Cipta Lestari Kehati. Lelaki kelahiran 17 Mei 1969 ini sejak kecil sudah akrab dengan singkong. Lahir dan tumbuh di Kediri. Saat duduk di bangku sekolah, dia membantu keluarganya berjualan gethuk, makanan khas dari singkong. Tak hanya berjualan, dia pun membantu memilih singkong yang baik dan mengolahnya. Selepas SMA, dia meneruskan pendidikan ke Universitas Jember dan meraih predikat cum laude saat itu. Pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember ini tak diam untuk menerapkan ilmunya. Dia mengejar ilmu teknologi pangan ke negeri sakura, Jepang tepatnya di Universitas Perfektur Osaka. Di sana dia meneliti pigmen bunga seruni yang dapat diekstrak menjadi pewarna alami. “Karena kebutuhan produk itu besar di sana,” ujarnya saat dihubungi Mongabay, pada Minggu (01/02/2015). Dari Jepang, Subagio kembali lagi ke Indonesia. Sayangnya ilmu tentang bunga seruni tak bisa diimplementasikan. Sebagai peneliti, dirinya tergerak untuk menyelesaikan penelitian dan bisa mengimplementasikan sesuatu yang ditelitinya itu. Dia pun melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Memperdalam teknologi pangan dan pertanian mengikuti mengikuti program jejaring kerja sama antar Universitas Asia-Eropa di Belanda dan Inggris. Subagio sempat mengunjungi Avebe Corp di kota Veendam, Belanda. Di sana dia mengunjungi pabrik pengolahan kentang untuk menjadi pati atau tepung yang memberinya inspirasi. Sejak saat itulah, di tahun 2004 dia bertekad untuk meneliti dan mengolah sumber pangan lokal, lalu pilihannya jatuh pada singkong. “Kenapa singkong, karena sumber pangan ini mudah dan banyak ditemukan di Indonesia,” ujarnya. Dalam pemikiran Subagio, negara ini adalah negara besar dengan pertumbuhan dan pertambahan penduduk yang tinggi. Tentunya penduduk memerlukan kebutuhan pangan yang besar, dan sayang jika hanya tergantung pada beras. Apalagi jika terus menerus terjadi akan meningkatkan impor yang besar. Karena itulah dia memikirkan sumber pangan alternatif yang bisa dijangkau masyarakat. Sebelum memutuskan meneliti singkong, dia pun sempat memusatkan perhatian kepada kacang koro dan ubi jalar. “Tetapi ketersediaannya lebih banyak ubi kayu dan implementasinya lebih banyak.” Dia meneliti kacang koro sebagai alternatif protein masyarakat. Kacang ini mampu tumbuh di lahan kering dan lahan yang cenderung kurang subur atau lahan kritis. Kacang koro bisa dipakai sebagai pengganti kedelai dalam pembuatan tempe yang lebih dikenal masyarakat. Pada 2004, Subagio mulai meneliti singkong secara serius. Penelitian ini didasari dari opini masyarakat bahwa singkong adalah makanan orang miskin. Dan opini itu, kata pria yang dikukuhkan sebagai profesor pada usia 40 tahun ini, mengakui orang miskin memang banyak mengkonsumsi singkong. Singkong pun memang melimpah berdasar data yang ada. Dari sanalah dia ingin mengubah persepsi dan opini masyarakat ini. Bahwa singkong bisa naik ‘kelas’ dan tidak hanya dijumpai dalam bentuk yang ada sekarang ini. Bahwa singkong pun bisa membuat lidah pangling. Tak berasa seperti singkong. “Bagaimana caranya agar kesan singkong itu hilang, terbebas dari cita rasa singkong,” ujar pria 10 bersaudara ini. Dia pun menerapkan ilmu yang sudah diperoleh dan pengalaman yang dimiliki selama ini. Dia menggagas pembuatan Mocaf (Modified Cassava Flour) sebuah olahan tepung dengan bahan dasar singkong. Pada tahun 2006, Guru Besar Universitas Jember ini mulai membuat pabrik Mocaf di Trenggalek. Pabrik itu sudah mampu memproduksi ratusan ton tepung Mocaf setiap bulannya. Sayangnya pabrik itu sempat tersendat. Kemudian dia mendirikan pabrik di Solo yang kemudian berkembang pesat. Subagio menceritakan sedikit proses yang dilakukan untuk mengangkat derajat singkong. Dia mencoba meniru beberapa teknologi tradisional seperti pembuatan makanan gathot. ”Kalau diolah dengan benar, kesan singkongnya bisa hilang.” Subagio mencoba melakukan teknologi fermentasi dengan bakteri asam laktat untuk menutup aroma singkong. Dia pun memilih sumber bakteri yang baik. Dengan teknologi sederhana dan jumlah terbatas selama tiga hari dia mendapatkan hasil yang diinginkan. Hanya saja waktu tiga hari ini dinilai terlalu lama, apalagi jika harus dilakukan dalam jumlah yang besar. Subagio pun terus melakukan penelitian, mengubah teknologi dan mengevaluasinya secara berkelanjutan. Hingga akhirnya dia mencatat waktu antara 10-15 jam. Sampai kini pun dia masih terus menyempurnakan catatan waktunya. Pengajar yang pernah menyabet gelar Dosen Berprestasi Nasional pada 2011 juga menjelaskan rahasia tentang singkong. Singkong yang baik, kata dia, adalah singkong yang dipanen setelah berumur 10-12 bulan dengan golongan atau varietas manis atau langsung bisa dimakan. Singkong yang baik, kata dia, juga bisa dilihat dari asal lahan tanamnya. Singkong yang baik biasanya bagus jika ditanam di lereng yang menghadap ke timur. “Patinya tinggi, kalau yang menghadap ke barat kurang bagus,” ujarnya. Menurutnya matahari pagi memicu fotosintesis lebih bagus, sehingga tidak segera mendorong pembentukan selulosa. Hal ini rupanya penting diperhatikan dan singkong yang baik ini akan berpengaruh pada rendeman dan fermentasi. Tak hanya di sukses di laboratorium dan pabrik, pria ini juga menginginkan bisa membantu masyarakat sekitarnya. Caranya dengan memberdayakan lahan pertanian dan berbagi ilmu tentang singkong. Dengan memberi pengetahuan, masyarakat bisa menghasilkan singkong yang bagus. Dia pun mulai memberdayakan masyarakat di sekitar pabrik untuk memenuhi kebutuhan pabriknya. Dia membentuk kelompok kerja yang berbeda. “Ada satu desa yang khusus mengupas singkong, lalu ada yang mengiris, ada desa yang mencuci, ada juga yang menjemur,” jelasnya. Melalui cara ini, dia mampu memberdayakan masyarakat desa dan memberikan pendapatan tambahan. Saat ini, sudah ada 65 desa di seluruh Indonesia yang dia bina untuk memproduksi Mocaf. Tak berhenti pada tepung, dia pun mengolahnya menjadi beragam produk. Tepung unik tersebut diolah menjadi beragam kue-kue kering, brownies, sampai menjadi mie ayam. Melalui gerai Mister Te, dia menjual produk-produk tersebut. Tidak lupa dengan berbekal tepung Mocaf, pria kelahiran Kediri ini juga menciptakan beras cerdas sebagai pengganti beras dari padi. Pada 2012, beliau dikukuhkan menjadi Guru Besar di Universitas Jember dengan pidato ilmiah berjudul Nasionalisme Pangan Untuk Kedaulatan dan Kesejahteraan Indonesia. Profesor muda ini masih harus berjuang untuk mengubah cara pikir dan cara pandang para peneliti dan masyarakat. Rupanya di kalangan peneliti pun masih banyak yang berpikir untuk apa meneliti singkong. Kini dia mengajak 20 peneliti lain untuk meneliti lebih dalam tentang…

Selanjutnya
Keatas