Using; Suku yang Lekat dengan Kopi

DESA Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, merupakan daerah yang mayoritas penduduknya keturunan asli Suku Using. Suku Using tidak bisa dilepaskan dari kopi. Kopi sudah melekat dan menjadi budaya turun-temurun masyarakat Kemiren. Hampir seluruh upacara adat di Kemiren tidak lepas dari kopi, seperti perkawinan, ider bumi, dan sebagainya. Kopi juga selalu digunakan dalam sesaji masyarakat Kemiren. Penobatan Menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai warga kehormatan Suku Using pada 19 November 2013, misalnya, menjadi salah satu peristiwa yang menguatkan bahwa kopi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Suku Using. Saat itu masing-masing rumah yang berdiri di sepanjang jalan di desa adat Banyuwangi itu mengeluarkan meja, lengkap dengan teko dan cangkir kopi. Siapa pun bisa menikmati kopi itu secara cuma-cuma. Demikian hasil riset Drs. Edy Burhan, SU, (alm) dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember. (*)

Selanjutnya

Ini Kontribusi Unej dalam Pengembangan Komoditas Kopi

SIAPA yang tak kenal minuman ini. Ini minuman populer. Disukai kalangan bawah sampai atas. Mulai dari orang desa sampai perkotaan Kopi. Aktivitasnya disebut ngopi. Kopi komoditas perkebunan yang telah ada sejak era kolonial Belanda. Perkebunannya dikembangkan korporasi sampai petani rakyat. Serapan tenaga kerja di perkopian sangat tinggi. Karena itu, kopi menjadi komoditas perkebunan yang mendapat atensi penuh dari Universitas Jember. Universitas Jember selama ini telah membangun kerjasama dengan berbagai pihak dalam pengembangan perkebunan dan komoditas kopi. Baik itu dengan perkebunan kopi rakyat, BUMN/BUMD, swasta, dinas-dinas perkebunan di berbagai provinsi, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Melalui kegiatan civitas akademika berbagai fakultas yang ada, pusat penelitian, lembaga pengabdian kepada masyarakat, maupun para peneliti (dosen), Universitas Jember telah lama berperan aktif dalam kajian dan penelitian tanaman kopi dan hulu sampai hilir. Keberadaan berbagai stake holder di bidang perkopian memberikan kontribusi cukup besar bagi Universitas Jember dalam pembelajaran terkait kopi bagi mahasiswa dan dosen. Entah itu untuk pemenuhan bahan pustaka, tempat penelitian dosen dan mahasiswa dalam pemenuhan tugas akhir, magang, KKN, dan sebagainya. Universitas Jember juga memberikan kontribusi di bidang perkopian. Wujudnya, antara lain, pelatihan, diskusi, seminar, pengabdian masyarakat, kerjasama penelitian, dan sebagainya. Tahun 2006 Universitas Jember melalui proyek I-MHERE membina manajemen dan pembentukan koperasi tani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember. Koperasi Tani Ketakasi yang dibina Universitas Jember mendapatkan MDG’s Award dari pemerintah pada 2012. (*)

Selanjutnya

Mau Tahu Riset Tebu di Unej? Ini Diantaranya…

TEKAD Universitas Jember untuk mengembangkan pertebuan nasional diimplementasikan dalam tiga kewajiban perguruan tinggi. Mulai dari penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Di bidang penelitian, Universitas Jember memiliki banyak peneliti yang konsen di bidang pertebuan. Termasuk, di dalamnya adalah aspek sosial ekonomi, seperti manajemen pabrik gula, dan sebagainya. Guru besar ekonomi pertanian Universitas Jember Prof. Dr. Ir. Rudi Wibowo, M.S.,telah sangat lama menginisiasi forum diskusi penelitian tebu di Universitas Jember dalam suatu kelompok riset agribisnis tebu. Saat Universitas Jember mengembangkan kelompok-kelompok riset (KeRis), maka kelompok risetnya dinamakan ISCane (Integrated Sugar Cane) Research Group. Di forum diskusi inilah dirancang berbagai rencana-rencana penelitian para dosen yang konsen meneliti bidang agribisnis tebu, baik on farm maupun off farm. Diisi mayoritas dosen muda seperti Dr. Luh Putu Suciati, S.P., M.Si; Julian Adam Ridjal, S.P., M.P.; Illia Seldon Magfiroh S.E., M.P.; Rena Yunita Rahman, S.P., M.Si.; Intan Kartika Setyawati, S.P., M.P.; dan Ahmad Zainuddin, SP, M.Si; ISCane Research Group bisa disebut pula sebagai tempat penempaan untuk memunculkan para peneliti muda pertebuan dari Universitas Jember. Bahkan, beberapa di antaranya sudah terlibat dalam tim penyusunan biaya pokok produksi (BPP) gula yang dibentuk Kementerian Pertanian, sebagai salah satu instrumen Kementerian Perdagangan untuk menentukan harga patokan gula petani (HPP). Selain itu, beberapa peneliti tebu di bidang ke-agroteknologi-an Fakultas Pertanian, di antaranya adalah Prof. Tri Agus Siswoyo, S.P., M.Agr., Ph.D; Prof. Dr. Ir. Sri Hartatik, M.S.; Ir. Sigit Soeparjono, M.S., Ph.D; Dr. Ir. Soleh Avivi, M.Si.; Dr. Ir. Mizwar, M.S.; Dr. Ir. Sugeng Winarso, M.Si.; Drs. Yagus Wijayanto, M.A., Ph.D.; dan lainnya. Menelisik problematikanya, beberapa penelitian difokuskan, baik pada sisi on farm maupun off farm, sesuai dengan masalah yang dihadapi pertebuan nasional saat ini. Sekedar contoh, beberapa tema riset di bawah ini dapat menjadi gambaran riset yang telah dilakukan para dosen di Universitas Jember.   Riset tebu di bidang on farm Penelitian di bidang on farm meliputi penelitian dari sisi teknis agronomis dan sosial ekonomi pertanian. Di bidang lahan, misalnya riset terkait pengembangan varitas unggul baru yang tahan dan berproduksi tinggi pada berbagai lahan sub optimal atau lahan marginaldi wilayah Indonesia seperti lahan kering, lahan salin dan lahan tergenang. Di bidang agroteknologi, misalnya riset terkait (a) perakitan varietas unggul baru tebu dilakukan dengan peningkatan keragaman genetik melalui teknik kultur in vitro maupun kultur sel dengan membuat  seleksi ketahanan ditingkat sel maupun organ, (b) riset peningkatan kadar sukrosa atau rendemen tebu varietas unggul baru dengan memberikan perlakuan radiasi sinar gama maupun mutagen kimia untuk mendapat keragaman kegentik d tingkat sel maupun organ tanaman tebu hasil mutase genetik. Dari hasil penelitian tersebut telah di dapat beberapa koleksi plasma nutfah tebu unggul baru yang sampai saat ini terus  dilakukan kajian sifat-sifat agronomis dan uji multi lokasi sesuai sifat ketahanan abiiotik yang dimiliki. Di bidang sosial ekonomi dan agribisnis, misalnya riset-riset terkait (a) efisiensi teknis usahatani tebu, (b) perbandingan efisiensi usahatani tebu dengan teknik pembibitan konvensional dan teknik bud chip, (c) riset terkait mutu tebu,  (d) optimalisasi suplai bahan baku tebu, (e) keputusan petani terkait dengan pemilihan varietas, serta (f) kajian tentang sewa lahan, dan berbagai kajian terkait nilai ekonomi tebu serta analisis pendapatan masyarakat petani.   Riset tebu di bidang off farm Riset di bidang off farm banyak terkait dengan aspek-aspek efisiensi kinerja dari pabrik gula, misalnya riset tentang economic losses (risiko kehilangan gula), efisiensi kinerja pabrik gula, kinerja parik gula di Indonesia, daya saing pabrik gula di Jawa Timur, dan kebijakan peningkatan daya saing industri gula Jawa Timur dilihat dari harga pokok produksi. Selain itu, riset-riset berbasis manajemen off farm yang telah dilakukan terutama mencakup optimalisasi manajemen suplai bahan baku tebu (BBT). Lokasi riset terutama dilakukan di wilayah pabrik gula di lingkungan PTPN X. Kajian sampai pada temuan yang menarik, misalnya faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak-optimalan suplai BBT pada PG diantaranya cuaca hujan yang panjang, kurangnya tenaga tebang dalam proses tebang angkut,  harga tebu yang bersaing antar PG, jarak BBT dengan PG, varietas yang ditanam, dan kompetisi penggunaan lahan tebu dengan tanaman lain. Oleh sebab itu, PTPN X perlu melakukan perbaikan manajemen terkait optimalisasi suplai BBT demi tercapainya kapasitas giling dan meningkatkan daya saing gula. Beberapa tindakan seperti menambah lahan sewa perlu dilakukan agar pihak PG dapat melakukan budidaya sesuai standar menurut Good Agricultural Practices (GAP) pada usaha tani tebu. Selain itu kemitraan dan menjaga hubungan baik dengan petani perlu dilakukan mengingat sebagian besar suplai BBT pada PTPN X berasl dari Tebu Rakyat. Selain itu, beberapa kajian manajemen telah dilakukan, misalnya manajemen risiko bagi pabrik gula dengan kapasitas atau skala yang berbeda, untuk menelisik sejauh mana kinerja pabrik gula dikaitkan dengan standar pengelolaan terunggul (SPT). Hasil kajian sementara ini menunjukkan bahwa rata-rata pabrik gula masih di bawah kinerja SPT. Penyebabnya bukan hanya akibat kondisi pabrik yang belum baik, melainkan disebabkan pula kualitas bahan baku yang kurang baik. Hal ini tidak lepas dari asal bahan baku bukan dari lahan sendiri, tetapi dari petani. Sehingga, kualitasnya lebih sulit dikontrol. Berbeda bila pabrik punya HGU sendiri, kualitas bahan baku bisa lebih dikendalikan. Yang menarik diketengahkan adalah riset terkait daya saing agroindustri gula domestik dengan studi kasus di PTPN X. Daya saing agroindustri gula nasional dapat tercermin dari tinggi rendahnya harga pokok produksi yang dikeluarkan oleh pabrik gula dalam memproses tebu menjadi gula. Hasil riset menunjukkan bahwa daya saing agroindustri gula pada PTPN masih sangat beragam. Akan tetapi dalam lingkup yang lebih luas, daya saing agroindustri gula Indonesia berbasis tebu masih lemah bila dibandingkan dengan Thailand bahkan dunia. Lemahnya daya saing agroindustri gula domestik disebabkan beban biaya produksi yang sangat tinggi akibat kualitas tebu (rendemen) yang rendah dan prosespenggilingan tebu yang belum efisien. Permasalahan utama tampaknya pada aspek ketersediaan lahan, produktivitas tanaman, kinerja pabrik gula dan diversifikasi ko-produk gula. Peningkatan kinerja pabrik gula dan diversifikasi ko-produk gula menjadi keharusan dalam peningkatan daya saing tersebut. (*)

Selanjutnya

Agroindustri Mocaf Gerakkan Ekonomi Pedesaan

TEPUNG singkong modifikasi atau Mocaf adalah produk tepung dari singkong, yang diproses dengan fermentasi bakteri asam laktat. Teknologi ini dikembangkan oleh tim Universitas Jember untuk meningkatkan penggunaan singkong sebagai sumber karbohidrat yang melimpah di Indonesia. Singkong bukanlah komoditas strategis, karena penerimaannya yang buruk sebagai bahan baku makanan. Sebaliknya, Mocaf dapat digunakan sebagai bahan makanan dengan penggunaan yang sangat luas, mulai dari mie, roti, makanan ringan hingga makanan semi basah, untuk menggantikan gandum, beras/beras lilin ke tapioka, dan dapat pula menjadi bahan baku utama yang baru, produk dengan karakteristik unik. Pabrik  yang memproduksi Mocaf dengan kapasitas 1.000 ton per bulan telah didirikan di Solo menggunakan sistem klaster, yang melibatkan petani di lini produksi. Dengan konsep ini, rekayasa sosial yang signifikan telah dilakukan di beberapa tempat sejak 2006. Dimulai dengan pembentukan koperasi, pembentukan klaster, dan sistem bisnis yang melibatkan jaringan kelompok tani. Di mana, kelompok chip Mocaf tersebar di berbagai kabupaten di Jawa, Kalimantan, dan Halamhera, Maluku. Kehadiran klaster pengolahan chip Mocaf di tingkat petani memicu siklus biomassa di daerah produksi ubi kayu. Kulit singkong diproses menjadi pakan ternak dan limbah cair menjadi pupuk cair. Selanjutnya, integrasi pupuk organik, budidaya ubi kayu, pengolahan keripik, pakan, dan ternak, dapat diterapkan dengan baik di lahan yang kurang optimal. Mulai dari pasir pantai, lahan gambut dan lahan kering hingga pegunungan. Sejak tahun 2016, Universitas Jember dan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO – Australia) telah menjalankan proyek Applied Research and Innovation Systems in Agriculture (ARISA) untuk menerapkan sistem ini di tanah pantai pasir Jember dan Lumajang. Hingga Juni 2017, proyek ARISA telah menyediakan akses ke varietas unggul dan pelatihan untuk sekitar 1.190 petani singkong petani kecil di wilayah tersebut. Nilai tambah yang dihasilkan sudah lebih dari Rp 4 miliar, tercipta 223 pekerjaan baru dalam produksi pupuk dan pengolahan pasca panen, termasuk kelompok perempuan yang menghasilkan produk singkong untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Selanjutnya, kehadiran kelompok dan pabrik Mocaf akan menciptakan berbagai jenis usaha, mulai dari bengkel, anyaman bambu, pedagang singkong, transportasi, hingga pengolahan makanan. Secara nasional, lebih dari 13 ribukesempatan kerja telah diciptakan dari industri ini. Dengan demikian, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah lahan yang tidak optimal dan memperkuat ketahanan pangan nasional. (*)  

Selanjutnya

Kapan Tebu Masuk Nusantara?

TANAMAN tebu (Saccharumofficinarum L) yang tumbuh di Indonesia diduga berasal dari dari Papua New Guinea. Diperkirakan tebu kali pertama ditemukan pada 8.000 sebelum masehi (SM). Ekspansi tanaman ini ke arah barat Papua New Guinea berlangsung pada 6.000 SM. Lalu, tebu mulai menyebar ke Indonesia, Filipina, dan India. Rahasia tanaman tebu akhirnya terbongkar setelah terjadi ekspansi besar-besaran orang-orang Arab pada abad VII sesudah masehi. Tanaman ini merupakan satu anggota familia rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah. Tetapi, masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika. Tebu mampu bertahan hidup di daratan rendah hingga ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Tetapi, waktu itu tanaman ini belum mendapatkan perhatian dari bangsa pribumi di Indonesia. Sebab, penduduk asli di Jawa saat itu mengonsumsi gula merah untuk mendapatkan rasa manis dalam makanan. Gula yang disukai adalah gula merah yang mereka buat dari nira kelapa atau nira tebu yang dimasak sampai kental, lalu dijemur sampai keras. Mereka tidak tertarik memproses nira tebu menjadi gula kristal. Hal ini tercatat dalam buku History of Java yang ditulis Raffles. Dia menuliskan bahwa awalnya tebu tidak dikonsumsi sebagai bahan pemanis, melainkan sebagai minuman penyegar. Yakni, dengan mengunyah batang tebu untuk mendapatkan air tebu. Secara ekonomi, komoditas gula sangat penting bagi kehidupan, sehingga seluruh kekuatan Eropa membangun koloni di pulau-pulau kecil Karibia. Bahkan, demi memiliki koloni baru untuk mengembangkan tebu, bangsa-bangsa Eropa harus bertempur untuk menguasai pulau-pulau di kawasan Karibia. Selanjutnya, tanaman tebu dibudidayakan di berbagai perkebunan besar di kawasan-kawasan lain di dunia (India, Indonesia, Filipina dan kawasan Pasifik) untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa dan lokal. Catatan sejarah menunjukkan, VOC yang pertama kali mengekspor gula dari Batavia. Tetapi, belum ada bukti yang bisa memastikan bahwa awal pembuatan gula Kristal di Hindia Belanda berlokasi di Batavia. Justru, Banten diduga menjadi lokasi pertama pembuatan gula kristal di Indonesia. Hal ini berdasarkan adanya batu silinder di Museum Banten Lama dan lukisan peta Kota Banten tahun 1595. Baru ketika orang-orang Belanda mulai membuka koloni di Pulau Jawa, kebun-kebun tebu monokultur mulai dibuka dan terus berkembang ke arah timur. Puncak kegemilangan perkebunan tebu nasional sendiri dicapai awal 1930-an. Saat itu ada sekitar 179 pabrik pengolahan dan produksi gula dengan kapasitas produksi tiga juta ton gula per tahun. Di akhir dekade, karena ada krisis ekonomi yang berujung pada rontoknya industry gula, akhirnya hanya tersisa 35 pabrik dengan produksi 500 ribu ton gula per tahun. Industri tebu justru mulai pulih saat Perang Pasifik. Tercatat, jumlah pabrik gula saat itu mencapai 93 unit dengan kapasitas produksi mencapai 1,5 juta ton. Tetapi, di akhir perang dunia II jumlahnya kembali berkurang hingga tinggal 30 unit pabrik yang masih aktif. Melihat perjalanan industri tebu memang tidak bisa dipisahkan dengan kolonialisasi yang dilakukan Belanda. Sistem kolonial Belanda memang hanya ingin memanfaatkan sumber daya manusia dan kekayaan alam yang murah. Apalagi, Pulau Jawa dikenal sebagai daerah yang subur untuk tebu. Tidak mengherankan, Jawa sudah menjadi sentra penghasil gula sejak kolonialisasi Belanda. Mayoritas pabrik gula yang masih bertahan sekarang pun merupakan “warisan” Belanda. Gula menjadi komoditas unggulan di Eropa, selain rempah-rempah. Karena pola yang dijalankan berbasis sistem kolonial, pengembangan perkebunan dan industri tebu saat itu tidak bisa dinikmati oleh rakyat. Setelah Indonesia merdeka dari kolonialisme, berbagai perkebunan tebu dan pabrik gula dinasionalisasi sebagai aset nasional. Hal itu terjadi di era 1950-an. Pengelolaan aset kebun dan pabrik diserahkan pemerintah Indonesia kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tidak hanya pada tebu, nasionalisasi aset perkebunan juga terjadi pada komoditas kopi, kakao, maupun kelapa sawit. Saat ini agribisnis tebu milik pemerintah hanya ada di beberapa PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). PT Perkebunan Nusantara tergabung dalam holding PTPN III, yaitu PTPN VII di Lampung, PTPN IX di Jawa Tengah, PTPN X danXI di Jawa Timur, serta PTPN XIV di Sulawesi Selatan. Selain itu, ada beberapa pabrik gula swasta yang berdiri di Indonesia. Total ada sekitar 64 pabrik gula yang beroperasi di seluruh tanah air. Namun, dari sisi penyebaran secara geografis masih tidak proporsional. Sebagian besar pabrik gula ada di Jawa Timur. Jumlahnya mencapai lebih dari 30 unit pabrik. Tidak heran, penyangga terbesar industri gula nasional ada di Jawa Timur. Pemerintah sejatinya sudah mencanangkan pogram swasembada gula sejak 2002. Untuk mendukung hal itu, pemerintah juga telah membentuk Dewan Gula Indonesia setahun berikutnya. Tetapi, hingga kini swasembada gula itu belum kunjung tercapai. Karena itu, sampai sekarang Indonesia masih mengimpor gula untuk memenuhi kebutuhan nasional. Penyebab belum tercapainya swasembada gula cukup kompleks. Antara lain, stagnasi riset pergulaan, pabrik-pabrik gula di Jawa yang ketinggalan teknologi, tingginya tingkat konsumsi gula nasional, serta sedikitnya investor yang siap membuka lahan tebu di luar Jawa. Namun, berbicara tebu sebenarnya bukan hanya membahas tentang gula. Sebab, produk turunan tebu sangat banyak. Tetapi, produk turunan non gula di Indonesia kurang berkembang. (*)

Selanjutnya

Keunggulan Singkong yang Harus Kamu Ketahui

SINGKONG adalah salah satu komoditas pangan yang banyak tumbuh di Indonesia. Singkong mudah ditemui di hampir semua daerah di nusantara. Sebelum beras menjadi bahan pangan pokok yang merata di semua daerah, beberapa daerah di zaman dahulu telah menjadikan singkong sebagai bahan pangan pokok yang utama. Seiring perjalanan waktu, singkong malah menjadi makanan yang dikonotasikan dengan masyarakat ekonomi bawah. Padahal, banyak keunggulan singkong yang selama ini belum banyak diketahui orang. Mau tahu apa saja? Ini beberapa di antaranya: 1) mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber tenaga, 2) daun singkong kaya akan vitamin A dan sumber protein penting, 3) menghasilkan energi yang lebih banyak per hektare dibandingkan beras dan gandum, 4) dapat tumbuh di daerah marjinal di mana tanaman lain tidak bisa tumbuh, 5) sebagai sumber pendapatan petani karena bisa dijual sewaktu-waktu, dan 6) dapat disimpan dalam bentuk tepung dan pati. Keren ya… Meski demikian, amat disayangkan bila sumber daya hayati singkong selama ini dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kecukupan pangan, khususnya sebagai sumber karbohidrat. Produk olahan singkong yang dikenal masyarakat selalu ditampilkan dalam bentuk cemilan atau jajanan, seperti ubi rebus, bakar, goreng, kripik, getuk atau kolak, yang sejak dulu ada. Akibatnya, masyarakat selalu menganggap singkong sebagai makanan inferior yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah. Hal ini selaras dengan hasil penelitian dari Scott yang menyatakan, pola konsumsi singkong dan ubi jalar adalah berbanding terbalik dengan pendapatannya. Artinya, semakin banyak mengonsumsi singkong atau ubi jalar, pendapatannya berindikasi semakin kecil. Dengan kata lain, singkong dan ubi jalar dikonotasikan dengan makanan orang berpendapatan rendah. (*)

Selanjutnya

Petani Dukung Kopi Jember Miliki IG

KALANGAN petani kopi di Jember sangat mendukung gagasan agar kopi Jember memiliki sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Menurut Dony Waluyo, petani sekaligus pegiat kopi di Jember, kopi Jember memiliki modal kekhasan yang tidak dimiliki oleh kopi lain.   “Kopi Jember dari jenis Robusta memiliki rasa coklat. Sementara, dari jenis Arabica ada rasa spicy-nya. Sementara, kopi Liberica asal Jember memiliki cita rasa fruity. Bahkan, skor kopi Jember itu mencapai 84,6, yang artinya sudah masuk golongan speciality coffee,” ujar pria asal Sukma Elang, Jelbuk, Jember, ini.   Dia berharap, Universitas Jember bisa menginisiasi tindak lanjut menuju sertifikasi IG bagi kopi Jember. Dewa Ayu Susilowati, ketua KeRis Coffee for Welfare Universitas Jember, berjanji bakal menindaklanjuti hasil kegiatan diskusi terarah yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember ini.   Menurut dia, KeRis yang dipimpinnya akan segera berkoordinasi dengan semua stakeholder perkopian Jember untuk mendiskusikan tindak lanjut pengajuan sertifikasi IG kopi Jember. “Kami berterima kasih atas semua masukan dari seluruh komponen kopi Jember dari hulu hingga hilir. Masukan ini dalam waktu dekat akan kami jadikan bahan untuk menyusun dokumen persyaratan sertifikasi IG kopi Jember,” tutur dokter gigi yang memiliki perhatian pada penelitian kopi untuk kesehatan ini. (*)

Selanjutnya

Saatnya Kopi Jember Miliki IG, Setuju?

SIAPA bilang Jember bukan sentra penghasil kopi. Walau bukan sebagai penghasil kopi Arabica yang dikenal bernilai jual tinggi, Jember memiliki kekayaan besar kopi Robusta. Karena itu, sudah saatnya kopi Jember memiliki Indikasi Geografis (IG).   Tahukah Anda apa itu IG? Ini semacam sertifikasi paten berbasis komunitas atau daerah. Dengan adanya IG, maka produk kopi Jember akan terlindungi secara hukum dan mendapatkan pengakuan atas keunikannya. Ujungnya adalah kopi Jember memiliki harga jual tinggi.   Desakan agar kopi Jember memiliki IG ini terungkap dari diskusi terarah (FGD) Kelompok Riset (Keris) Coffee for Walfare di Gedung Pascasarjana Universitas Jember (2/11). M. Yunus Affan, kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kemenkumham Jawa Timur, sertifikasi IG adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang karena faktor lingkungan geografis.   Di dalamnya, kata dia, termasuk faktor alam dan manusia atau kombinasi keduanya, yang memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada produk yang dihasilkan. “Artinya perlu penelitian ilmiah dari berbagai sisi untuk membuktikan bahwa kopi Jember benar-benar memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh kopi dari daerah lain,” katanya.   Diakui dia, untuk mendapatkan sertifikasi IG tidak mudah. Perlu usaha keras dan kerjasama dengan semua stakeholder yang ada, dari petani kopi, pemerintah, akademisi dan kalangan bisnis.   “Namun, jika berhasil mendapatkan sertifikasi IG, maka tentu saja kopi Jember akan terlindungi secara hukum selamanya. Mampu bersaing dengan produk kopi lain, bahkan bisa jadi harga jualnya turut terkatrol,” sambung Yunus.   Jika kopi Jember memiliki IG, Anda setuju? (*)

Selanjutnya

Inilah Konsen Unej dalam Pengembangan Perkebunan

BERLOKASI bukan di ibukota negara atau provinsi, tidak membuat Universitas Jember kehilangan posisi strategis. Justru, saat berdiri di tengah daerah dengan basis pertanian yang besar, Universitas Jember ingin mengambil peran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis pertanian. Di dalamnya mencakup pertanian pangan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. Karena itu, Universitas Jember menempatkan dirinya untuk fokus mengembangkan riset dan pengabdian masyarakat di bidang pertanian. Posisi tersebut justru tepat dengan roh Universitas Jember selama ini. Dengan kondisi tersebut, posisi dan peran Universitas Jember malah kian khas dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri lain. Apalagi, sektor perkebunan, seperti kopi, kakao, tembakau, dan tebu, juga menjadi sektor unggulan di Jawa Timur. Semangat local based knowledge inilah yang diusung oleh Universitas Jember. Tanpa meninggalkan pengembangan disiplin ilmu yang lain, Universitas Jember terus mengedepankan kompetensinya dalam pengembangan sektor perkebunan. Bahkan, dalam pengembangan empat komoditas perkebunan itu, posisi Universitas Jember sangat diakui oleh berbagai stake holder. Posisi inilah yang membuat Universitas Jember sejajar dengan sejumlah perguruan tinggi negeri yang lain di Indonesia. Meskipun postur organisasinya belum bisa disamakan dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), atau Institut Pertanian Bogor (IPB), tetapi tempat Universitas Jember setara dengan kampus-kampus besar itu. Keunikan posisi dan kompetensi itulah yang membuat Universitas Jember masuk dalam klaster kedua dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Posisi inilah yang terus dipertahankan Universitas Jember dalam menghadapi sejumlah tantangan zaman, termasuk era perdagangan bebas. Di tataran praktik, positioning itu dijabarkan dalam pembukaan beberapa program studi (prodi) berbasis pertanian. Demikian pula rumpun keilmuan yang lain. Walaupun tidak secara langsung berurusan dengan pertanian, tetapi ada sebagiannya yang membahas pertanian. Seperti, ilmu hukum, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Kebijakan rektor Universitas Jember menempatkan kampus Tegalboto berdasarkan local based knowledge sudah tepat. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Universitas Jember dalam pengembangan komoditas-komoditas unggulan perkebunan di Indonesia. Diharapkan, industri perkebunan bisa ikut memberikan dukungan. Untuk mengokohkan posisi tersebut, Universitas Jember pada tahun 2013 meluncurkan Center for Development of Advance Science and Technology (CDAST). CDAST adalah salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Universitas Jember. Tujuannya adalah untuk melakukan koordinasi penelitian yang strategis secara interdisiplin dan potesial bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat sentralistik dan terpadu.Diluncurkannya CDAST ini untuk mengembangkan kapabilitas produk-produk unggulan, seperti tebu, tembakau, singkong, kopi, dan kakao. (*)

Selanjutnya

Jangan Anggap Remeh Singkong

SEBAGIAN kita boleh saja menganggap remeh singkong. Tapi, di negara lain, singkong telah menjadi komoditas yang memiliki dampak ekonomi besar. Bahkan, ada negara yang menjadikan singkong sebagai prioritas produk pertanian yang harus dikembangkan. Total produksi singkong dunia di tahun 2003 mencapai 174,32 juta ton. Jumlah itu sedikit mengalami peningkatan dibandingkan 2001 (170,52 juta ton). Produsen utama singkong dunia secara berturut-turut adalah Nigeria, Brazil, Thailand, Indonesia, Kongo, Ghana, dan India. Di Asia total, output produksi singkong turun sebesar tujuh persen yang direfleksikan oleh semakin kecilnya luas panen di Indonesia dan Thailand. Di Benua Amerika Latin, produksi singkong berkembang di beberapa negara, seperti Brazil, Kolombia, dan Bolivia. Di Brazil, terjadi peningkatan produksi pada tahun 2000 sebesar 23 juta ton sebagai pengaruh dari baiknya harga jual petani, di samping kondisi iklim yang mendukung. Di Bolivia, peningkatan produksi terjadi sebagai akibat dari meluasnya areal panen. Sedangkan di Kolombia peningkatan produksi merupakan dampak langsung dari adanya dukungan internasional terhadap pengolahan singkong dan promosi penggunaan teknologi baru. Di antara negara-negara lainnya, Thailand adalah negara termaju dalam pemanfatan singkong. Pada tahun 1998 saja, dari total produksi 15 juta ton singkong segar, Thailand telah mengekspor lebih dari 774 ribu ton tapioka. Oleh industri dalam negerinya, 970 ribu ton tapioka digunakan sebagai bahan baku industri pangan, MSG, pemanis buatan, kertas, tekstil, dan sebagainya. Saat ini, setelah adanya isu bioetanol, pemerintah Thailand telah membuat target untuk meningkatkan produksi singkong menjadi 34 juta ton pada tahun 2012 yang akan digunakan untuk industri gaplek (10 juta ron), etanol (9 juta ton), dan tapioka (15 juta ton). Sedangkan di Negeria sebagai produsen terbesar singkong, pemerintah telah mencanangkan singkong sebagai urutan pertama dari lima komoditi unggulan di samping beras, minyak nabati, peternakan, dan perkebunan untuk dikembangkan secepatnya. Untuk itu, Nigeria telah menyusun sebuah dokumen perkembangan industri berbasis singkong dalam The Nigerian Cassava Industry: Statistical Handbook. Di lain pihak, Cina sebagai net importer produk turunan singkong, telah membuat terobosan besar dengan mendirikan perusahaan negara yang mempunyai perkebunanan singkong lengkap dengan pabrik pengolahannya untuk tapioka, dan produk-produk turunannya seperti pati termodifikasi (modified starch). Masih anggap remeh singkong? Jangan ah. (*)

Selanjutnya
Keatas