Tag: unej
Dialog Publik “Mau Jember Maju? Perlu SDM Unggul”
Universitas Jember, 10 September 2019. Dialog Publik ini adalah dialog publik kedua, acara yang dikemas dengan santai, serius dan interaktif ini tetap menghadirkan narasumber-narasumber yang berkompeten dibidangnya, diantaranya dr. Supangat (Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember), Charles Meikiansyah (DPR RI terpilih), H, Karim (DPRD Provinsi Jatim), Nur Hasan (Anggota DPRD Jember, Edy Budi Susilo (Kadispendik Jember) dan Hestu Wibowo (Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember). Acara yang bertempat di gedung KAUJ Univ. Jember ini juga disiarkan secara langsung oleh tiga stasiun radio dan satu stasiun televisi. acara yang bertema Mau Jember Maju? Perlu SDM Unggul, Acara yang berusaha membantu mencari solusi tentang perkembangan Kab. Jember kedepan berdasarkan SDM yang unggul serta mampu berkompetesi.
Expo KKN Univ. Jember Gel. II Periode 2018/2019
(Jember, September 2019). Pada hari Minggu 01 September 2019, LP2M Universitas Jember melaksanakan Expo KKN Gel. II. Expo yang dilaksanakan di lapangan Univ. Jember. Expo kali ini sangat spesial, bukan hanya karena dihadiri oleh sekitar 3556 mahasiswa KKN tetapi juga mengusung konsep tematik. Expo ini menghadirkan sekitar 350 booth yang ditempati mahasiswa KKN Univ. Jember yang tersebar di Kab. Jember, Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Banyuwangi, Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, Kab. Pacitan, Kab. Pangkep dan Kab. Bangka Belitung. Expo ini juga sebagai ajang pertanggungjawaban hasil nyata mahasiswa KKN Tematik Univ. Jember dalam membantu mengembangkan potensi yang terdapat di desa. Expo yang dibuka secara langsung oleh Ketua LP2M ini menekankan inovasi dan pengembangan desa, pada kesempatan ini juga LP2M juga memberikan apresiasi terhadap kelompok KKN yang mampu memunculkan produk yang inovatif dan apresiasi atas kreasi booth terbaik. Acara Expo ini juga dihadiri oleh perwakilan dari USAID-Mitra Kunci, dimana pada periode KKN ini USAID-Mitra Kunci ikut berkontribusi dalam penyelenggaraan KKN tematik ini, yaitu memberikan pelatihan soft skill kewirausahaan kepada mahasiswa KKN. Menurut Ali Badrudin sebagai Ketua Pusat KKN LP2M, melalui Expo ini diharapkan hasil nyata oleh para mahasiswa KKN tersebut dapat membantu desa dalam hal branding pengenalan produk-produk berbahan dasar potensi desa masing-masing.
Inilah Konsen Unej dalam Pengembangan Perkebunan
BERLOKASI bukan di ibukota negara atau provinsi, tidak membuat Universitas Jember kehilangan posisi strategis. Justru, saat berdiri di tengah daerah dengan basis pertanian yang besar, Universitas Jember ingin mengambil peran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis pertanian. Di dalamnya mencakup pertanian pangan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. Karena itu, Universitas Jember menempatkan dirinya untuk fokus mengembangkan riset dan pengabdian masyarakat di bidang pertanian. Posisi tersebut justru tepat dengan roh Universitas Jember selama ini. Dengan kondisi tersebut, posisi dan peran Universitas Jember malah kian khas dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri lain. Apalagi, sektor perkebunan, seperti kopi, kakao, tembakau, dan tebu, juga menjadi sektor unggulan di Jawa Timur. Semangat local based knowledge inilah yang diusung oleh Universitas Jember. Tanpa meninggalkan pengembangan disiplin ilmu yang lain, Universitas Jember terus mengedepankan kompetensinya dalam pengembangan sektor perkebunan. Bahkan, dalam pengembangan empat komoditas perkebunan itu, posisi Universitas Jember sangat diakui oleh berbagai stake holder. Posisi inilah yang membuat Universitas Jember sejajar dengan sejumlah perguruan tinggi negeri yang lain di Indonesia. Meskipun postur organisasinya belum bisa disamakan dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), atau Institut Pertanian Bogor (IPB), tetapi tempat Universitas Jember setara dengan kampus-kampus besar itu. Keunikan posisi dan kompetensi itulah yang membuat Universitas Jember masuk dalam klaster kedua dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Posisi inilah yang terus dipertahankan Universitas Jember dalam menghadapi sejumlah tantangan zaman, termasuk era perdagangan bebas. Di tataran praktik, positioning itu dijabarkan dalam pembukaan beberapa program studi (prodi) berbasis pertanian. Demikian pula rumpun keilmuan yang lain. Walaupun tidak secara langsung berurusan dengan pertanian, tetapi ada sebagiannya yang membahas pertanian. Seperti, ilmu hukum, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Kebijakan rektor Universitas Jember menempatkan kampus Tegalboto berdasarkan local based knowledge sudah tepat. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Universitas Jember dalam pengembangan komoditas-komoditas unggulan perkebunan di Indonesia. Diharapkan, industri perkebunan bisa ikut memberikan dukungan. Untuk mengokohkan posisi tersebut, Universitas Jember pada tahun 2013 meluncurkan Center for Development of Advance Science and Technology (CDAST). CDAST adalah salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Universitas Jember. Tujuannya adalah untuk melakukan koordinasi penelitian yang strategis secara interdisiplin dan potesial bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat sentralistik dan terpadu.Diluncurkannya CDAST ini untuk mengembangkan kapabilitas produk-produk unggulan, seperti tebu, tembakau, singkong, kopi, dan kakao. (*)
Pabrik Gula; Diversifikasi atau Mati!
GULA menjadi salah satu komoditas pangan startegis di Indonesia. Karena itu, pemerintah selalu menjaga stabilitas gula, baik dari sisi pasokan maupun harga. Dari sisi pasokan, ketersediaan gula harus mencukupi. Sedangkan dari sisi harga, pemerintah berusaha mengendalikan agar tidak terlalu tinggi. Karena itu, pemerintah selalu membuka opsi impor gula untuk menjaga pasokan. Terutama, untuk memenuhi kebutuhan gula industri. Bukan hanya membuka opsi impor, pemerintah juga membuka peluang swasta untuk berinvestasi pabrik gula. Tidak mengherankan, pabrik-pabrik gula BUMN yang sudah berdiri sejak era kolonial harus mampu menjaga eksistensi bisnisnya. Sebab, tantangan pabrik gula BUMN yang mayoritas warisan Belanda menghadapi sejumlah tantangan, seperti teknologi yang ketinggalan dan inefisiensi. Karena itu, mau tidak mau, manajemen pabrik gula harus mampu mendiversifikasi bisnisnya. Artinya, pabrik gula tidak boleh lagi terpaku hanya memproduksi gula. Pabrik gula harus bisa menciptakan produk komersial dari produk samping gula. Setiap bagian dari tanaman tebu serta hasil ekstraknya harus bisa dimanfaatkan dalam industri yang berbeda. Sebab, ada hampir 125 industri yang bisa muncul dari pengolahan bagian-bagian tebu. Salah satunya adalah pengolahan tetes tebu yang bisa dijadikan bioetanol, salah satu jenis sumber energi yang baru terbarukan. Selain itu, tetes juga bisa menjadi bahan baku pembuatan MSG. Belum lagi turunan tebu yang lain, yaitu produk biomassa. Dalam proses pengolahan tebu, ada produk biomassa yang tak dapat dimanfaatkan dalam pemrosesan gula. Demikian pula dengan ampas tebu yang dihasilkan. AMATI BIBIT: Dr. Luh Putu Suciati, SP, M.Si (kiri), dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, di laboratorium tebu Jengkol, Kediri, milik PTPN X. Peluang-peluang inilah yang kurang mampu ditangkap oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Termasuk, pengolahan produk gula. Indonesia masih belum bisa mendiversifikasikan hasil produknya ke dalam beragam bentuk. Di pabrik gula mancanegara seperti India dan Thailand, terdapat beragam varian produk yang dihasilkan. Berbeda dengan pabrik gula di Indonesia yang sudah terdoktrin sejak zaman Belanda yang hanya memproduksi gula kristal putih. Padahal, selalu ada pasar yang muncul dengan diversifikasi produk gula jadi. Mulai dari yang berbentuk gula cair, kubus, hingga gula putih bubuk. Jika ditelisik lebih dalam, terdapat pasar di masyarakat yang bisa disasar secara maksimal untuk mendistribusikan diversifikasi produk gula tersebut. Memang, ada kendala yang dihadapi industri terkait diversifikasi tebu. Beberapa diantaranya adalah alatnya yang belum tersedia dan kajian yang belum banyak yang dilakukan. Sebab, untuk melakukan kajian membutuhkan waktu yang cukup panjang. Begitu pula dengan penyesuaian teknologi yang digunakan, perlu peran perguruan tinggi dalam mendukung teknologi di pabrik gula. Bila tidak mendiversifikasi bisnisnya, cepat atau lambat pabrik gula akan mati. (*)
3 Alasan Singkong Harus Dikembangkan
PABRIK MOCAF: Para pekerja dengan menyortir singkong dalam bentuk chip sebelum dioleh menjadi mocaf. PANGAN menjadi isu strategis nasional. Sebab, ketahanan pangan sangat terkait dengan ketahanan nasional. Kok bisa? Bagaimana tidak. Bahan pangan menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Ketika ketersediaan pangan bermasalah, akan menimbulkan instabilitas nasional. Misalnya, instabilitas ekonomi. Naiknya inflasi akibat mahalnya bahan pangan akan membuat daya beli lemah. Saat daya beli lemah, perekonomian nasional akan merasakan dampaknya secara langsung. Persoalan pangan juga bisa menjadi sumber instabilitas politik. Ketersediaan pangan yang bermasalah bisa menjadi persoalan politik yang serius, khususnya antara presiden dan jajaran dengan parlemen. Singkong sebagai bahan pangan sumber karbohidrat sejatinya bisa dikembangkan lebih besar lagi. Ini untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Berikut ini 3 alasan mengapa singkong harus dikembangkan di Indonesia: 1) Kebutuhan beras lebih besar dari pasokan Pada tahun 2035, menurut proyeksi para ahli kependudukan, sekalipun program Keluarga Berencana (KB) sukses, penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 350 juta jiwa. Dengan tingkat konsumsi beras sekarang 139 kilogram per kapita per tahun, pada 2035 dibutuhkan sekitar 50 juta ton beras. Untuk menghasilkan 50 juta ton beras, dibutuhkan sawah dengan produktivitas rata-rata 5 ton GKG (gabah kering giling) per hektare seluas sekitar 11 juta hektare. Padahal, data menunjukkan, saat ini Indonesia hanya mempunyai sekitar 6,5 juta hektare sawah. Sangat sulit membayangkan bagaimana mendapatkan areal baru seluas 11 juta hektare tersebut. Tidak heran, dari tahun ke tahun Indonesia selalu impor beras. 2) Singkong bisa dipakai untuk nonpangan Singkong sangat memungkinkan dikembangkan secara luas dan masal karena tidak hanya dipakai untuk kebutuhan pangan. Sebab, banyak industri nonpangan yang juga membutuhkan singkong sebagai bahan baku. Di bidang energi, produksi bioetanol bisa menggunakan bahan baku singkong. Demikian pula industri farmasi, kimia, cat, dan berbagai industri lainnya juga membutuhkan singkong. Artinya, singkong tidak hanya akan diserap oleh sektor pangan, melainkan juga di berbagai industri nonpangan lainnya. 3) Bisa dikembangkan di berbagai jenis lahan Salah satu keunggulan singkong dibandingkan bahan pangan lainnya, misal beras, terletak pada tingkat adaptasi terhadap lahan. Padi sebagai sumber beras akan menghasilkan produktivitas tinggi di lahan yang subur dengan ketersediaan air yang cukup. Padahal, di Indonesia lahan marginal sangat banyak. Jumlah lahan marginal pun lebih besar daripada lahan pertanian irigasi teknis. Singkong bisa ditanam di lahan kritis, kering, gambut, berpasir, dan semacamnya. Pendeknya, padi tidak bisa tumbuh di sembarang lahan. Sedangkan singkong bisa tumbuh di sembarang lahan. (*)
- 1
- 2
