Pabrik Gula; Diversifikasi atau Mati!

GULA menjadi salah satu komoditas pangan startegis di Indonesia. Karena itu, pemerintah selalu menjaga stabilitas gula, baik dari sisi pasokan maupun harga. Dari sisi pasokan, ketersediaan gula harus mencukupi. Sedangkan dari sisi harga, pemerintah berusaha mengendalikan agar tidak terlalu tinggi. Karena itu, pemerintah selalu membuka opsi impor gula untuk menjaga pasokan. Terutama, untuk memenuhi kebutuhan gula industri. Bukan hanya membuka opsi impor, pemerintah juga membuka peluang swasta untuk berinvestasi pabrik gula. Tidak mengherankan, pabrik-pabrik gula BUMN yang sudah berdiri sejak era kolonial harus mampu menjaga eksistensi bisnisnya. Sebab, tantangan pabrik gula BUMN yang mayoritas warisan Belanda menghadapi sejumlah tantangan, seperti teknologi yang ketinggalan dan inefisiensi. Karena itu, mau tidak mau, manajemen pabrik gula harus mampu mendiversifikasi bisnisnya. Artinya, pabrik gula tidak boleh lagi terpaku hanya memproduksi gula. Pabrik gula harus bisa menciptakan produk komersial dari produk samping gula. Setiap bagian dari tanaman tebu serta hasil ekstraknya harus bisa dimanfaatkan dalam industri yang berbeda. Sebab, ada hampir 125 industri yang bisa muncul dari pengolahan bagian-bagian tebu. Salah satunya adalah pengolahan tetes tebu yang bisa dijadikan bioetanol, salah satu jenis sumber energi yang baru terbarukan. Selain itu, tetes juga bisa menjadi bahan baku pembuatan MSG. Belum lagi turunan tebu yang lain, yaitu produk biomassa. Dalam proses pengolahan tebu, ada produk biomassa yang tak dapat dimanfaatkan dalam pemrosesan gula. Demikian pula dengan ampas tebu yang dihasilkan. AMATI BIBIT: Dr. Luh Putu Suciati, SP, M.Si (kiri), dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, di laboratorium tebu Jengkol, Kediri, milik PTPN X. Peluang-peluang inilah yang kurang mampu ditangkap oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Termasuk, pengolahan produk gula. Indonesia masih belum bisa mendiversifikasikan hasil produknya ke dalam beragam bentuk. Di pabrik gula mancanegara seperti India dan Thailand, terdapat beragam varian produk yang dihasilkan. Berbeda dengan pabrik gula di Indonesia yang sudah terdoktrin sejak zaman Belanda yang hanya memproduksi gula kristal putih. Padahal, selalu ada pasar yang muncul dengan diversifikasi produk gula jadi. Mulai dari yang berbentuk gula cair, kubus, hingga gula putih bubuk. Jika ditelisik lebih dalam, terdapat pasar di masyarakat yang bisa disasar secara maksimal untuk mendistribusikan diversifikasi produk gula tersebut. Memang, ada kendala yang dihadapi industri terkait diversifikasi tebu. Beberapa diantaranya adalah alatnya yang belum tersedia dan kajian yang belum banyak yang dilakukan. Sebab, untuk melakukan kajian membutuhkan waktu yang cukup panjang. Begitu pula dengan penyesuaian teknologi yang digunakan, perlu peran perguruan tinggi dalam mendukung teknologi di pabrik gula. Bila tidak mendiversifikasi bisnisnya, cepat atau lambat pabrik gula akan mati. (*)

Selanjutnya

3 Alasan Singkong Harus Dikembangkan

PABRIK MOCAF: Para pekerja dengan menyortir singkong dalam bentuk chip sebelum dioleh menjadi mocaf.   PANGAN menjadi isu strategis nasional. Sebab, ketahanan pangan sangat terkait dengan ketahanan nasional. Kok bisa? Bagaimana tidak. Bahan pangan menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Ketika ketersediaan pangan bermasalah, akan menimbulkan instabilitas nasional. Misalnya, instabilitas ekonomi. Naiknya inflasi akibat mahalnya bahan pangan akan membuat daya beli lemah. Saat daya beli lemah, perekonomian nasional akan merasakan dampaknya secara langsung. Persoalan pangan juga bisa menjadi sumber instabilitas politik. Ketersediaan pangan yang bermasalah bisa menjadi persoalan politik yang serius, khususnya antara presiden dan jajaran dengan parlemen. Singkong sebagai bahan pangan sumber karbohidrat sejatinya bisa dikembangkan lebih besar lagi. Ini untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Berikut ini 3 alasan mengapa singkong harus dikembangkan di Indonesia:   1) Kebutuhan beras lebih besar dari pasokan Pada tahun 2035, menurut proyeksi para ahli kependudukan, sekalipun program Keluarga Berencana (KB) sukses, penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 350 juta jiwa. Dengan tingkat konsumsi beras sekarang 139 kilogram per kapita per tahun, pada 2035 dibutuhkan sekitar 50 juta ton beras. Untuk menghasilkan 50 juta ton beras, dibutuhkan sawah dengan produktivitas rata-rata 5 ton GKG (gabah kering giling) per hektare seluas sekitar 11 juta hektare. Padahal, data menunjukkan, saat ini Indonesia hanya mempunyai sekitar 6,5 juta hektare sawah. Sangat sulit membayangkan bagaimana mendapatkan areal baru seluas 11 juta hektare tersebut. Tidak heran, dari tahun ke tahun Indonesia selalu impor beras.   2) Singkong bisa dipakai untuk nonpangan Singkong sangat memungkinkan dikembangkan secara luas dan masal karena tidak hanya dipakai untuk kebutuhan pangan. Sebab, banyak industri nonpangan yang juga membutuhkan singkong sebagai bahan baku. Di bidang energi, produksi bioetanol bisa menggunakan bahan baku singkong. Demikian pula industri farmasi, kimia, cat, dan berbagai industri lainnya juga membutuhkan singkong. Artinya, singkong tidak hanya akan diserap oleh sektor pangan, melainkan juga di berbagai industri nonpangan lainnya.   3) Bisa dikembangkan di berbagai jenis lahan Salah satu keunggulan singkong dibandingkan bahan pangan lainnya, misal beras, terletak pada tingkat adaptasi terhadap lahan. Padi sebagai sumber beras akan menghasilkan produktivitas tinggi di lahan yang subur dengan ketersediaan air yang cukup. Padahal, di Indonesia lahan marginal sangat banyak. Jumlah lahan marginal pun lebih besar daripada lahan pertanian irigasi teknis. Singkong bisa ditanam di lahan kritis, kering, gambut, berpasir, dan semacamnya. Pendeknya, padi tidak bisa tumbuh di sembarang lahan. Sedangkan singkong bisa tumbuh di sembarang lahan. (*)  

Selanjutnya
Keatas